Wednesday, August 17, 2011

Ayah Azka Tidak Ingin seperti Darsem




Anto, ayah dari Azka yang menderita sindrom Guillain-Barre (GBS) saat dijumpai wartawan dalam kegiatan penyerahan donasi Gerakan 1000 Rupiah Peduli Shafa dan Azka di Green Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (15/8/2011). Dalam kesempatan ini Anto, menyatakan mengundurkan diri dari gerakan tersebut karena biaya pengobatan Azka sudah ditanggung oleh pihak Askes dan uang yang diterimanya akan disalurkan untuk penderita sindrom Guillain-Barre (GBS) yang belum mendapatkan bantuan.

Jakarta, Indonesia (News Today) - Keluarga Azka (4) merasa bersyukur karena biaya pengobatan anaknya yang menderita sindrom Guillain-Barre (GBS) ditanggung oleh pemerintah. Rasa syukur Anto, ayah Azka, diwujudkan dengan mengundurkan diri dari gerakan "1.000 Rupiah Peduli Shafa dan Azka".

"Kami mendapat bantuan negara sangat baik, rasa syukur kami dengan mengundurkan diri dan uang yang diterima akan saya donasikan lagi ke penderita GBS lainnya," ujarnya saat menerima donasi hasil gerakan "1.000 Rupiah Peduli Shafa dan Azka" di, Jakarta, Senin (15/8/2011).

Karena sudah dapat bantuan dari negara, lanjut Anto, dirinya dan keluarga tidak ingin mengambil kesempatan ini sebagai ajang untuk memperkaya diri dan mencari keuntungan.

"Wah, kok udah ditanggung negara masih minta, apalagi sekarang lagi ramai ngomongin Darsem, saya tidak mau seperti itu, gerakannya seribu rupiah untuk Shafa dan penderita GBS lainnya saja," ujarnya.

Keluarga Azka mengaku, hatinya tak nyaman menerima uang donasi, sedangkan banyak keluarga penderita GBS lain belum terbantu. Selain itu, dia juga ingin menjaga jangan sampai timbul fitnah mencari keuntungan.

Karena itu, dia juga meminta nama Azka dihilangkan dari gerakan mengumpulkan donasi masyarakat. Jika tetap diberi uang donasi oleh sukarelawan, dia mengaku akan membagi-bagikannya.

Untuk siapa saja? Anto mengaku akan meminta informasi dari situs komunitas peduli GBS, yakni peduligbs.blogspot.com. Pasalnya, selain Shafa dan Azka, masih ada beberapa penderita GBS lain.

Salah satu penderita GBS yang berada di Jakarta adalah Tissa Trinovita (17), remaja putri yang sejak dua bulan lalu tergolek lemah di RS Dharmais. Selama dua bulan perawatan di rumah sakit, biaya pengobatan Tissa mencapai Rp 350 juta.

Source : kompas

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Facebook