Semarang, Indonesia (News Today) - Seniman serba bisa dari Yogyakarta, Didik Nini Thowok, menilai seni bermanfaat untuk mengasah ketajaman manusia dalam berolah rasa, sesatu yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan."Kalau diamati kondisi sekarang ini, di televisi orang-orang saling cakar, kekerasan, dan konflik, saya miris. Sepertinya mereka tidak pernah mendapatkan sentuhan rasa," katanya di Semarang, Rabu (30/5/2012).
Hal itu diungkapkan pria kelahiran Temanggung, 13 November 1954, yang lebih dikenal sebagai seniman tari itu dalam seminar "Membangun Karakter Bangsa Melalui Pemantapan Kebudayaan Nasional dan Kesadaran Historis".
Menurut Didik, seni yang mengasah olah rasa mengedepankan nilai-nilai positif yang berkaitan dengan keindahan dan harmoni. Namun, yang sekarang ini dikedepankan lebih pada egoisme, kekerasan, dan brutal.
"Kalau mereka hanya mengedepankan egoisme, kekerasan, dan brutalitas, maka akan menjadi manusia yang tidak punya rasa. Olah rasa, yang diasah salah satunya melalui seni, turut membentuk kepribadian dan karakter," katanya.
Oleh karena itu, kata pemilik nama asli Didik Hadiprayitno tersebut, penanaman pendidikan karakter melalui kesenian dan kebudayaan sangat efektif, terutama sejak dini, kepada anak-anak.
Ia mengungkapkan bahwa anak muda sekarang ini sudah mulai kehilangan sikap sopan santunnya, bahkan terhadap orangtuanya sendiri. Misalnya, memanggil orangtua dengan seenaknya, dan tidak memiliki tata krama.
"Sama ibunya sendiri memanggil dengan `lu` dan dirinya `gue`, atau di masyarakat Jawa memanggil dengan sapaan ngoko `kowe` kepada orangtua. Ini salah siapa? Salah orangtuanya yang tidak mengajarkan tata krama," katanya.
Berkaitan dengan itu, Didik menegaskan perlunya kesenian dan kebudayaan dikenalkan sejak dini, misalnya kesenian wayang atau cerita-cerita lokal yang mengandung nilai kearifan untuk melatih berolah rasa.
"Saya praktikkan kepada anak saya dengan mengenalkan kesenian, seperti tari dan wayang kulit sejak dini. Tidak pernah saya berpikiran dengan mengenalkan seni, anak saya kelak harus menjadi seniman," katanya.
Pengenalan dan pembelajaran seni sejak dini kepada anak-anak, kata dia, tidak lantas berarti memaksa mereka harus menjadi seniman. Namun, rasa yang tertanam melalui seni bermanfaat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan profesinya.
Didik yang terlihat anggun mengenakan kebaya merah muda mengawali pemaparannya dengan menari Gambang Semarang, disambut tepuk tangan hadirin yang terpukau melihat kelincahannya menari bak perempuan asli.
Bahkan, seorang penari perempuan sempat bercanda meminta untuk menebak mana di antara mereka berdua yang perempuan asli. Kemudian Didik menjawab, "Kalau mau tahu, ya ayo dibuka bareng." Spontan hadirin pun tertawa.
Source : kompas







0 komentar:
Post a Comment