Saturday, March 3, 2012

90.000 Lapangan Kerja Bisa Gagal Tercipta




Ilustrasi: Sejumlah buruh borongan menikmati makan siang mereka secara bersama di kontrakan buruh di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (7/2/2012). Makan bersama dilakukan untuk menekan biaya hidup mereka. Sebagai buruh borongan pabrik sandal, dalam satu bulan mereka menerima upah maksimal Rp 1,2 juta.

Jakarta, Indonesia (News Today) - Sebanyak 90.000 lapangan kerja baru dikhawatirkan gagal tercipta, akibat turunnya target pertumbuhan ekonomi dari sasaran awal 6,7 persen menjadi 6,5 persen.

Dengan turunnya target pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 poin persentase tersebut, menyebabkan target penciptaan lapangan kerja sebanyak 90.000 tidak tercapai.

"Pertumbuhan ekonomi masih tetap kami jaga agar tidak jatuh terlalu jauh dari target APBN 2012. Karena review lembaga-lembaga internasional menunjukkan deviasi ke bawahnya agak jauh. Namun dengan stimuus fiskal dari APBN Perubahan, di mana belanja dialihkan ke infrastruktur, maka turunnya tidak jauh dari 6,7 persen. Bisa kami koreksi ke 6,5 dan 6.6 persen," ujar Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawaty di Jakarta, Rabu (29/2/2012).

Seperti diketahui, APBN 2012 menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,7 persen, dengan asumsi setiap satu persen pertumbuhan ekonomi akan menghasilkan 450.000 lapangan kerja baru. Namun belakangan, pemerintah merevisi target pertumbuhan ekonomi itu menjadi di kisaran 6,5-6,6 persen, karena melemahnya permintaan di pasar tujuan ekspor nasional.

Target baru pertumbuhan ekonomi itu masih lebih baik dari perkiraan sebagian ekonom, yang memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 6,1-6,3 persen.

Atas dasar itu, target baru pemerintah diharapkan dapat menahan perlambatan ekonomi sekitar 0,2-0,4 persen atau hilangnya 90.000-180.000 lapangan kerja baru.

Menurut Anny, kenaikan defisit sebesar 0,7 poin persentase (sekitar Rp 49 triliun) dimaksudkan untuk mencegah penurunan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun, di sisi lain, ekspor Indonesia tidak dapat dicegah lagi akan melemah.

"Konsumsi rumah tangga akan tetap dipertahankan tinggi. Karena kalau subsidi bahan bakar minyak dikurangi atau dipatok pada level tertentu, harus ada kompensasinya. Namun ekspor tetap akan turun. Itu sebabnya pertumbuhan ekonomi tetap kami jaga agar tidak turun separah yang diperkirakan para ekonom," ujar Anny.

Source : kompas

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Facebook