Saturday, March 26, 2011

Budi Daya Ikan Air Tawar Ditinggalkan




Bandung Barat, Indonesia (News Today) - Pasang surut air, serangan virus, ditambah limbah yang terus mencemari membuat bisnis budi daya ikan tawar di aliran Sungai Saguling di Bandung Barat, Jawa Barat, semakin tak diminati warga. Pembudi daya memilih beralih profesi setelah berkali-kali merugi.

Informasi yang dihimpun Kompas.com menyebutkan, setidaknya 5.000 kerambah jaring apung memenuhi aliran sungai yang melintasi Desa Bongas, Kecamatan Cililin, di tahun 1990 -an. Sekitar 20 ton ikan dihasilkan setiap hari untuk dipasarkan di kota-kota di sekitar Bandung.

"Dulu sungai penuh dengan jaring ikan sampai kita susah melintas. Sekarang tidak sampai 10 persen yang masih bertahan. Sisanya sudah pindah profesi," ungkap Sugianto (38), mantan pembudi daya, Rabu (23/3/2011).

Sugiarto menjelaskan, saat ini, pembudi daya harus memindah-mindahkan kerambah dengan perahu jika air surut. Semakin lama, kata dia, debit air yang mengalir semakin menurun. Kemudian, berbagai limbah dari Sungai Citarum masuk ke Sungai Saguling setiap awal tahun.

"Limbahnya tidak kelihatan tapi mengendap di bawah sungai. Waktu musim hujan, terjadi arus balik ke Sungai Citarum. Endapan dibawah itu naik ke atas. Ikan mati lah," tutur pria yang pernah memiliki 30 kolam ikan itu.

H. Ridwan (44), salah satu pembudi daya yang masih aktif mengemukakan, akibat limbah maupun virus, minimal 25 persen ikan pasti mati dalam sekali tebar benih. Jika air sangat tercemar, seluruh ikan akan mati. Kerugian bisa mencapai belasan juta rupiahn hingga puluhan juta rupiah dalam setiap kolam.

"Dulu saya punya 20 kolam terisi semua. Sekarang yang diisi ikan cuma enam atau tujuh kolam saja, yang lain kosong. Dulu satu kolam bisa panen tiga ton buat suplai ke Jakarta. Sekarang tidak suplai lagi. Kalau ada yang mau beli tinggal ambil aja," kata pria yang juga melakoni bisnis pakan ikan itu.

Penyuplai pakan terimbas

Dorongan bagi pembudi daya untuk beralih profesi dari tahun ke tahun berimbas pada agen maupun pengecer pakan ikan. Menurut Ridwan, dari puluhan pengecer pakan yang biasa mengambil barang dari perusahaan milik keluarganya, kini tinggal satu pengecer yang masih bertahan di Saguling.

"Dulu bisa laku 100 ton sampai 200 ton pakan sebulan. Sekarang cuma 30 ton sampai 50 ton. Itu pun banyak dipakai untuk sendiri. Apalagi harga pakan terus naik. Sekarang pembudi daya menyiasati dengan memberi makan roti bekas, mie instan bekas, yang harganya lebih murah," paparnya.

Source : kompas

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Facebook