Wednesday, August 17, 2011

Doa Anas untuk Nazaruddin




Jakarta, Indonesia (News Today) - Kisah Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin adalah kisah tentang persahabatan yang pecah kongsi. Mereka pernah bergandeng tangan mengurus bisnis bersama dan merintis karier politik di Partai Demokrat.

Nazaruddin adalah pendukung setia Anas dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 2010. Dalam hajatan tersebut, Anas berhasil meraih tampuk kepemimpinan partai bentukan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Nazaruddin didaulat Anas menjadi Bendahara Umum Partai Demokrat.

Kebersamaan persahabatan keduanya sudah berlangsung sebelum kongres. Mereka berkongsi dalam perusahaan PT Anugerah Nusantara dan PT Panahatan. Anas didapuk sebagai komisaris. Namun, Anas mengaku keluar dari kedua perusahaan itu pada 2009.

Hubungan kedua sahabat ini belakangan terlihat renggang, bahkan tampak bermusuhan pascakasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang, Sumatera Selatan, yang menyeret Nazaruddin sebagai tersangka.

Dalam pelariannya selama lebih kurang tiga bulan, Nazaruddin "bernyanyi" menuding Anas ikut menerima aliran "dana haram" hasil patgulipat Nazaruddin dalam proyek pembangunan wisma atlet dan Stadion Hambalang.

Menanggapi tudingan itu, Anas lebih banyak diam. Ia pelit bicara. Sesekali saja ia buka suara di hadapan wartawan. Bahkan, ketika Nazaruddin sudah ditangkap, Anas juga hemat komentar.

Di Gedung MPR/DPR/DPD, Senin (16/8/2011), dalam acara sidang bersama DPR dan DPD, yang salah satu agendanya mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sosok Anas terlihat oleh wartawan. Kontan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum ini dikerumuni para pemburu berita.

Anas dimintai komentar soal Nazaruddin yang saat ini dikatakan saudara sepupunya, Nasir, sedang ketakutan. Menurut Nasir, untuk makan pun Nazaruddin tidak berani, takut diracun.

"Ya, mudah-mudahan aman dan selamat," komentarnya singkat. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya. Puluhan wartawan terus mencecarnya dengan beragam pertanyaan. Seperti biasa, emosi Anas tetap terjaga. Anas yang kalem melenggang meninggalkan kerumunan wartawan tanpa sepatah kata lagi.

Source : kompas

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Facebook