(News Today) - Direktur Center for Petroleum and Energy Economic Studies, Kurtubi, memperkirakan harga Pertamax bisa menyentuh Rp 9.500 per liter seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia sepanjang tahun ini. "Kenaikan itu dengan asumsi US$ 1 sama dengan Rp 9.000," kata Kurtubi kepada Tempo kemarin.
Sinyal terus melambungnya harga Pertamax mulai terasa. Sejak 1 Januari, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak non-subsidi rata-rata Rp 450 per liter. Harga Pertamax, yang sebelumnya Rp 7.050, menjadi Rp 7.500 per liter. Harga Pertamax Plus naik dari Rp 7.450 menjadi Rp 7.900 per liter.
Kurtubi mendesak pemerintah segera mengatasi ancaman tersebut. Bila hal itu didiamkan, ia khawatir keuangan negara bakal jebol, terutama untuk subsidi. "Jika harga minyak US$ 100 per barel, pemerintah bisa mensubsidi Premium hingga Rp 15 triliun," ujarnya.
Ketimbang membatasi pemakaian Premium, yang tetap berujung pada pemberian subsidi, Kurtubi menyarankan pemerintah menaikkan harga Premium secara bertahap hingga harga jualnya sama dengan biaya pokok yang dikeluarkan. "Artinya, subsidinya tak ada," kata Kurtubi.
Kurtubi memperkirakan harga keekonomian Premium saat ini Rp 6.500 per liter dengan asumsi harga minyak dunia US$ 90 per barel. "Jadi, lebih baik Premium dinaikkan sampai Rp 6.500 daripada menyuruh masyarakat membeli Pertamax yang jauh lebih mahal," tuturnya.
Berbeda dengan Kurtubi, ekonom dari Universitas Gadjah Mada, A. Tony Prasetiantono, menuturkan bahwa harga minyak dunia akan berangsur stabil. "Saya yakin, pada Maret harga minyak kembali ke level normal," kata Tony. Sebab, kata dia, pendorong kenaikan harga minyak tahun ini berbeda dengan 2008.
Kala itu harga minyak sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 147 per barel akibat ulah spekulan. Tahun ini kenaikan harga didorong tingginya permintaan, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, yang dilanda musim dingin. Begitu musim dingin terberat berlalu pada Februari, permintaan minyak akan turun dan harganya perlahan kembali ke harga wajar di bawah US$ 90 per barel.
Pemerintah akan terus memantau kenaikan harga minyak dunia. Tapi mereka yakin harga minyak dunia tak akan naik signifikan. "Setidaknya dalam tiga bulan ini, kita melihat perkembangannya dulu. Harga minyak sulit ditebak," kata Evita Herawati Legowo, Direktur Jenderal Minyak dan Gas.
Source : TEMPO Interaktif







0 komentar:
Post a Comment