Jakarta, Indonesia (News Today) - Munawir (33), ayah bocah korban perkosaan, tidak memercayai pengakuan pelaku pemerkosaan, Zaenudin (47). Kepada warga yang mendatangi rumahnya, Udin, sapaan Zaenudin, menyebut hanya sekali melakukan tindakan amoral itu.
"Kepada warga dia ngakunya sekali. Waktu diperiksa polisi, dia ngakunya berbuat itu pas Ramadhan kemarin," sangsi Munawir saat ditemui di kamar kosnya, di Jalan Haji Saidi RT 08 RW 04 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (28/8/2012) sore.
Kesangsian Munawir terhadap pengakuan tetangga kosnya itu beralasan. Ia mengaku sudah beberapa kali melihat bercak darah pada celana dalam putri semata wayangnya, AN, yang saat ini berusia 3 tahun 11 bulan. "Pertama kali lihatnya sekitar 4 bulan lalu. Saya enggak pikir macam-macam karena anak saya suka bersepeda dan manjat sana, manjat sini," tutur pedagang makanan keliling itu.
Setelah itu, ia masih beberapa kali menemukan noda serupa di celana anaknya. Apalagi, Munawir yang tinggal bersama istrinya M (31) dan keluarga yang menghuni kamar atas rumah kos dua lantai itu sering kali melihat putrinya meringis atau menangis sambil memegang perutnya sekembali dari lantai bawah, tempat kamar kos Udin dan istrinya, IP, berada.
"Tiap kali ditanya dia enggak mau ngomong, menangis dan diam aja," sambung Munawir dengan mulut bergetar.
Lantaran sibuk dengan pekerjaan, ia tak memberikan perhatian besar terhadap kondisi anaknya. Dengan istri yang bekerja di sebuah toko swalayan di Pasar Minggu, praktis sang ayahlah yang bertugas memerhatikan keseharian putri mereka. Bahkan, Munawir mengaku bahwa dialah yang biasanya memandikan anaknya.
"Ya saya kan cowok, jadi enggak begitu perhatikan kondisi anunya anak saya," ujar pria yang sudah berpindah-pindah kontrakan di sekitar RW 04 Jagakarsa sejak 1998.
Keraguan Munawir atas pengakuan Udin juga didasarkan pada hasil visum dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang diterima Senin (27/8/2012). Hasil visum tersebut menunjukkan selaput dara AN telah sobek. "Juga ditemukan cedera lama di alat kelamin putri saya," sambung Munawir.
Ia juga sempat bertanya kepada korban seputar tindakan amoral yang dialaminya. Kepada ayahnya, AN mengaku pertama kali digagahi sudah cukup lama. Saat itu dia tengah bermain bersama bocah sebayanya yang adalah keponakan Udin. "Waktu dia lagi main sama si Ian, dia dengar ada yang panggil. Ternyata yang manggil Bang Udin. Dia suruh anak saya masuk, terus pintunya ditutup," urai Munawir.
Saat itu, AN mengaku mengalami kesakitan dan menangis. Namun, ia tidak bisa memanggil ayahnya lantaran mulutnya dibekap pelaku. Putri yang masih sangat kecil itu juga tidak mengingat berapa kali ia telah diperlakukan biadab oleh Udin. Kepada kedua orangtuanya, ia hanya mengungkapkan sudah beberapa kali mengalami tindakan asusila itu.
Udin sudah diamankan petugas Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (27/8/2012) malam. Sebelumnya, ia sempat dihakimi warga sekitar hingga babak belur. Ceceran darah kering yang cukup banyak masih terlihat jelas di depan kamarnya yang dalam kondisi terkunci. "Dia punya dua istri. Yang satu si IP yang tinggal sama di sini. Satu lagi di Kalibata," kata Mulia, perempuan yang tinggal di kamar sebelah kamar kos Udin.
Ia menerangkan, Udin bekerja sebagai sopir toko bangunan di Kalibata. Ia dikenal berperilaku santun. Karena itu, dia tidak menyangka bila Udin bisa melakukan perbuatan sadis itu terhadap korban. Hal yang sama diungkapkan Ilham, warga yang tinggal beberapa meter dari rumah kos yang ditempati pelaku. "Orangnya kelihatan sopan banget. Datang ke sini paling untuk beli rokok, terus balik. Dia juga ramah ke warga sini," terang Ilham.
Sementara itu, AN saat ini menetap di kediaman salah satu keluarga ibunya. Munawir mengaku sudah sempat mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk meminta bantuan.
"Kepada warga dia ngakunya sekali. Waktu diperiksa polisi, dia ngakunya berbuat itu pas Ramadhan kemarin," sangsi Munawir saat ditemui di kamar kosnya, di Jalan Haji Saidi RT 08 RW 04 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (28/8/2012) sore.
Kesangsian Munawir terhadap pengakuan tetangga kosnya itu beralasan. Ia mengaku sudah beberapa kali melihat bercak darah pada celana dalam putri semata wayangnya, AN, yang saat ini berusia 3 tahun 11 bulan. "Pertama kali lihatnya sekitar 4 bulan lalu. Saya enggak pikir macam-macam karena anak saya suka bersepeda dan manjat sana, manjat sini," tutur pedagang makanan keliling itu.
Setelah itu, ia masih beberapa kali menemukan noda serupa di celana anaknya. Apalagi, Munawir yang tinggal bersama istrinya M (31) dan keluarga yang menghuni kamar atas rumah kos dua lantai itu sering kali melihat putrinya meringis atau menangis sambil memegang perutnya sekembali dari lantai bawah, tempat kamar kos Udin dan istrinya, IP, berada.
"Tiap kali ditanya dia enggak mau ngomong, menangis dan diam aja," sambung Munawir dengan mulut bergetar.
Lantaran sibuk dengan pekerjaan, ia tak memberikan perhatian besar terhadap kondisi anaknya. Dengan istri yang bekerja di sebuah toko swalayan di Pasar Minggu, praktis sang ayahlah yang bertugas memerhatikan keseharian putri mereka. Bahkan, Munawir mengaku bahwa dialah yang biasanya memandikan anaknya.
"Ya saya kan cowok, jadi enggak begitu perhatikan kondisi anunya anak saya," ujar pria yang sudah berpindah-pindah kontrakan di sekitar RW 04 Jagakarsa sejak 1998.
Keraguan Munawir atas pengakuan Udin juga didasarkan pada hasil visum dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang diterima Senin (27/8/2012). Hasil visum tersebut menunjukkan selaput dara AN telah sobek. "Juga ditemukan cedera lama di alat kelamin putri saya," sambung Munawir.
Ia juga sempat bertanya kepada korban seputar tindakan amoral yang dialaminya. Kepada ayahnya, AN mengaku pertama kali digagahi sudah cukup lama. Saat itu dia tengah bermain bersama bocah sebayanya yang adalah keponakan Udin. "Waktu dia lagi main sama si Ian, dia dengar ada yang panggil. Ternyata yang manggil Bang Udin. Dia suruh anak saya masuk, terus pintunya ditutup," urai Munawir.
Saat itu, AN mengaku mengalami kesakitan dan menangis. Namun, ia tidak bisa memanggil ayahnya lantaran mulutnya dibekap pelaku. Putri yang masih sangat kecil itu juga tidak mengingat berapa kali ia telah diperlakukan biadab oleh Udin. Kepada kedua orangtuanya, ia hanya mengungkapkan sudah beberapa kali mengalami tindakan asusila itu.
Udin sudah diamankan petugas Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (27/8/2012) malam. Sebelumnya, ia sempat dihakimi warga sekitar hingga babak belur. Ceceran darah kering yang cukup banyak masih terlihat jelas di depan kamarnya yang dalam kondisi terkunci. "Dia punya dua istri. Yang satu si IP yang tinggal sama di sini. Satu lagi di Kalibata," kata Mulia, perempuan yang tinggal di kamar sebelah kamar kos Udin.
Ia menerangkan, Udin bekerja sebagai sopir toko bangunan di Kalibata. Ia dikenal berperilaku santun. Karena itu, dia tidak menyangka bila Udin bisa melakukan perbuatan sadis itu terhadap korban. Hal yang sama diungkapkan Ilham, warga yang tinggal beberapa meter dari rumah kos yang ditempati pelaku. "Orangnya kelihatan sopan banget. Datang ke sini paling untuk beli rokok, terus balik. Dia juga ramah ke warga sini," terang Ilham.
Sementara itu, AN saat ini menetap di kediaman salah satu keluarga ibunya. Munawir mengaku sudah sempat mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk meminta bantuan.
Source : kompas








0 komentar:
Post a Comment