Showing posts with label Petani. Show all posts
Showing posts with label Petani. Show all posts

Friday, November 7, 2014

Bagikan "Kartu Sakti", Jokowi Kaget Petani Kakao Punya Banyak Anak


Presiden Joko Widodo bertemu dengan petani kakao di Desa Saletto, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (6/11/2014) siang.

Mamuju (News Today) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan tiga kartu perlindungan sosial, yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (6/11/2014). Jokowi memanfaatkan kunjungannya di Desa Beru-beru dan Saletto untuk membagikan tiga kartu tersebut.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Fahmi Idris terlebih dulu mengenalkan secara singkat ketiga program tersebut. Layaknya seremoni pada umumnya, Fahmi kemudian memanggil perwakilan para petani untuk menerima kartu tersebut.

Kartu diberikan kepada Jokowi untuk dilakukan penyerahan secara simbolik. Jokowi kemudian bertemu dengan Syamsuddin, petani kakao di Desa Saletto, yang memiliki lima orang anak.

"Wah amplopnya tebal, kartunya banyak ini. Anaknya berapa, pak?" tanya Jokowi.

Syamsuddin menjawab bahwa dia tidak melakukan keluarga berencana sehingga punya lima orang anak.

"Ini bapak keluarganya lima? Banyak banget pak," seloroh Jokowi yang kemudian disambut tawa para petani kakao lainnya.

Pembagian kartu tak hanya dilakukan kepada petani kakao di Saletto, tetapi juga petani padi di desa Beru-beru.

Seperti yang terjadi di Beru-beru, Jokowi juga masih disambut ratusan warga di Saletto. Warga rela berpanas-panasan berdiri di sepanjang jalan di desa tersebut.

Ketika Jokowi turun dari mobil, masyarakat langsung mengerumuninya. Pasukan pengamanan presiden (paspampres) tidak membatasi interaksi warga dan Jokowi.

Source : kompas

Kepada Jokowi, Petani Kakao Curhat Sulitnya Dapat Modal Usaha dari Bank


Presiden Joko Widodo saat berdiskusi dengan petani kakao di Desa Saletto, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (6/11/2014)

Jakarta (News Today) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan para petani kakao di Desa Saletto, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (6/11/2014) siang. Kesempatan bertemu orang nomor satu negeri ini tak disia-siakan oleh para petani.

Meski harus berbicara dengan Jokowi sambil jongkok, mereka mengungkapkan kesulitan yang dialami petani kakao.

"Pak, mohon bantuannya kami kesulitan masalah bank untuk modal usaha kakao kami," ungkap Abdul Muis kepada Jokowi.

Jokowi sempat berdialog dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang ikut dalam aksi blusukan. Amran menjelaskan soal kondisi kakao dan potensi yang ada di desa tersebut apabila hasil produksi bisa ditingkatkan.

Jokowi langsung menyatakan akan memerintahkan kepada bank milik pemerintah untuk segera menjangkau petani kakao.

"Ada potensi besar di kakao, tapi ada hambatan masalah permodalan terutama di perbankan. Besok akan saya kumpulkan perbankan untuk segera masuk ke perkebunan kakao," kata Jokowi.

Dia menilai bantuan melalui perbankan merupakan nilai tambah yang baik bagi para petani. Namun, Jokowi mengingatkan agar setiap perkebunan kakao bisa disertifikasi.

"Agar kalau dipakai untuk ambil modal sebagai agunan, bisa digunakan. Saya akan perintahkan ke BPN atau Menteri Agraria untuk menyiapkan masalah sertifikat," ungkap Jokowi.

Selain berdialog dengan masyarakat, Jokowi juga melihat hasil kakao yang dihasilkan desa tersebut. Ratusan warga setempat tampak terus mengerumuni Jokowi yang datang bersama Ibu Negara Iriana.

Baik perempuan atau pun laki-laki, mereka nekat memanjat pohon kakao yang ada di perkebunan itu hingga akhirnya dimarahi oleh petugas keamanan.

Jokowi memutuskan berdialog dengan warga sambil jongkok lantaran membludaknya warga yang hadir dan terus berdesak-desakan. Seorang panitia terlihat pula digotong petugas menuju mushalla dengan kondisi lemas akibat kekurangan oksigen.

Source : kompas

Wednesday, October 29, 2014

Demo PTPN Takalar, Seorang Petani Renta Dikeroyok Preman


Seorang ibu di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan berupaya menolong seorang petani renta yang tengah dikeroyok preman saat berusaha menghalangi pengolahan tebu diatas tanah sengketa antara para petani dengan pihak PTPN XIV.

Takalar (News Today) - Daeng Sarro (70), seorang petani renta di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan menjadi bulan-bulanan sekelompok orang saat korban berusaha menghalangi pengolahan lahan tebu oleh pihak Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV, Senin, (27/10/2014). 

Saat itu, Daeng Sarro bersama petani lainnya menuntut agar tanah mereka dikembalikan karena sudah melewati batas kontrak 25 tahun yang disepakati secara lisan oleh kedua belah pihak, puluhan tahun silam. 

Bentrokan fisik ini terjadi pada pukul 11.00 Wita saat ratusan petani dari sejumlah desa di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Serikat Tani Polongbangkeng (STP) berusaha menghalangi pengolahan lahan tebu di atas tanah mereka. 

Sebelumnya, para petani ditemui oleh sejumlah pejabat Takalar, yakni sekretaris daerah (Sekda) dan Ketua DPRD Jabir Daeng Bonto. Namun pertemuan itu berujung kerusuhan. 

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lapangan, Jabir sempat memerintahkan sekelompok orang yang diduga preman untuk membubarkan aksi para petani. 

"Tangkap semua! Kalau perlu tembak kalau tidak mau mendengar," Jabir. 

Untuk menghindari korban jiwa, ratusan petani memilih meninggalkan lokasi setelah salah seorang rekannya ditangkap polisi. Hingga malam ini, para petani masih berkumpul di Desa Timbuseng, Kecamatan Polongbangkeng. 

"Banyak warga dipukuli, walaupun ibu-ibu. Jadi kami terpaksa mundur untuk menghindari korban jiwa," kata Daeng Sijaya, salah seorang petani.

Source : kompas

Share

Twitter Facebook