Showing posts with label Harus. Show all posts
Showing posts with label Harus. Show all posts

Friday, November 7, 2014

Wakil Ketua Komisi I: Kepala BIN Harus Lincah Hadapi Ancaman Dunia Maya


Tantowi Yahya

Jakarta (News Today) - Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya menilai calon kepala Badan Intelijen Negara harus memiliki kompetensi, integritas, dan rekam jejak yang baik dalam dunia intelijen.

"Pertimbangan kami walaupun politis, tetapi kami menginginkan kepala BIN memiliki kompetensi, integritas, dan rekam jejak (dalam dunia intelijen) sebagai masukan berharga untuk presiden," ujar Tantowi di Jakarta, Rabu (5/11/2014), seperti dikutip Antara.

Tantowi mengatakan, kriteria itu perlu karena ancaman dunia intelijen Indonesia bersifat asimetris terutama dari dunia maya. Karena itu, menurut dia, Komisi I DPR mendukung "cyber inteligent" dengan kemampuan yang memadai dari BIN dengan tetap bersinergi dengan kementerian terkait.

"BIN harus sebagai sistem peringatan dini, bisa memainkan peran lebih lincah dari ancaman dunia maya," ujarnya.

Dia menilai, ada beberapa nama yang beredar untuk menjadi Kepala BIN seperti Sutiyoso, Sjafrie Sjamsoeddin, dan TB Hasanuddin. Namun, menurut dia, siapapun yang menjadi kepala BIN, diharapkan mampu menjalin komunikasi yang baik dengan DPR.

Selain itu, Tantowi mengatakan, meski penetapan Kepala BIN merupakan wewenang presiden, tetapi sesuai Undang-Undang Intelijen disebutkan bahwa penetapan Kepala BIN harus melalui pertimbangan DPR, yaitu Komisi I.

Menurut Tantowi, pertimbangan Komisi I DPR itu bukan dengan proses uji kelayakan dan kepatutan, tetapi hanya pertimbangan dan presiden berhak menerima atau menolak pertimbangan tersebut.

"Prosesnya sama dengan penetapan duta besar, namun berbeda dengan pemilihan Komisi Penyiaran Indonesia dan Komisi Informasi Publik yaitu ditentukan DPR," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinasi Bidang Politik Hukum dan HAM Tedjo Edhy Purdjianto mengatakan, Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan rekam jejak calon Kepala BIN dan Jaksa Agung.

Menurut Tedjo, pertimbangan kompetensi sangat diinginkan Presiden Jokowi karena selama ini informasi intelijen yang sampai ke presiden dinilai tidak akurat. 

Selain itu menurut dia, Presiden Jokowi menginginkan BIN dapat bekerja sama dan berkoordinasi lebih baik lagi dengan lembaga intelijen lainnya.

Source : kompas

Wednesday, October 29, 2014

Di Jepang, Garmen Busana Kerja Harus Hemat Energi



(News Today) - Tekstil berbahan dasar polyester banyak digunakan sebagai garmen untuk pakaian seragam kerja. Bahan polyester ini dinilai memiliki ketahanan yang hampir serupa dengan tekstil berbahan wol. Layaknya tekstil katun, bahan ini pun tidak membuat pemakainya merasa kepanasan. 

PT Trisula Textiles Industries adalah salah satu produsen tekstil berbahan polyester dengan brand Bellini, Caterina, dan JOBB yang juga mengekspor produknya ke berbagai negara. Salah satu negara tujuan ekspor terbesar perseroan adalah Jepang. 

Menurut Assistant Manager DA & QA PT TTI, Deny Hadiana, warna-warna tekstil berbahan polyester yang digemari pasar Jepang adalah warna-warna dasar, seperti hitam, coklat, abu-abu, dan biru tua. Namun demikian, yang membedakan preferensi pasar Jepang adalah bahan pakaian seragam kerja harus hemat energi.

"Ke depan, untuk pengembangan ekspor kita lebih ke ladies item yang (sifat bahannya) ringan dan stretch. Untuk ekspor ke Jepang, yang hemat energi, yang mencucinya tidak perlu banyak air, minim air sehingga cepat kering," ujar Deny pada acara factory visit ke pabrik PT TTI di Cimahi, Jawa Barat, Selasa (28/10/2014). 

Bahkan, pasar Jepang juga mengajukan permintaan tekstil berbahan polyester untuk bahan seragam kerja yang bertekstur kokoh dan tidak mudah kusut. Tujuannya agar pemakainya tidak perlu repot-repot menyetrika. 

Di samping itu, untuk menjawab permintaan pasar ekspor, Deny mengaku pihaknya kini tengah mengembangkan bahan tekstil yang menyerupai dan memiliki tekstur sepertu wol atau wool touch polyester. Sebab, tekstil berbahan wol harganya cenderung mahal dan perawatannya pun sulit, sehingga banyak memberatkan konsumen. 

"Untuk ekspor, kami mulai mengembangkan polyester-based wool atau wool touch, karena perawatannya lebih mudah dan lebih murah. Kami juga mengembangkan bahan yang stretch, sehingga bahan itu juga mengedepankan kenyamanan, bukan hanya tahan lama," jelas Deny.

Source : kompas

Share

Twitter Facebook