Showing posts with label Berani. Show all posts
Showing posts with label Berani. Show all posts

Friday, November 7, 2014

Kisah Berani Para Pengubur Jenazah Pasien Ebola di Sierra Leone


Mariatu Kagbo menjadi relawan tim pengubur jenazah untuk melindungi kehormatan perempuan.

(News Today) - Saat Mariatu Kagbo keluar rumah dan berjalan menuju jalan besar, sejumlah orang berteriak, "Ebola!"

Teriakan itu mungkin hanya ejekan, tetapi bisa juga mewakili ekspresi ketakutan yang ada di dalam hati orang-orang di Old Wharf, wilayah pinggiran ibu kota Sierra Leone, Freetown.

Ketakutan bahwa Kagbo bisa membawa virus itu ke rumah-rumah warga karena dia bekerja sebagai pengubur jenazah pasien ebola. "Mereka menghina saya. Kadang mereka melakukan kekerasan," kata Kagbo, perempuan berusia 37 tahun, ibu enam anak, yang menjadi relawan Palang Merah.

"Mereka bisa berbicara sesukanya. Tetapi saya berbicara pada diri sendiri, jika bukan saya yang melakukannya, siapa lagi?"

Setelah setengah jam berdesakan duduk di angkutan umum, Kagbo bertemu dengan koleganya di Waterloo, salah satu kota yang terkena dampak terburuk ebola.

"Dua meninggal," kata atasannya saat mereka naik mobil menuju desa terdekat Tombo.

Warga telah berkumpul di luar sebuah rumah kecil di dekat tepi air. Beberapa wanita yang meratap. Seorang pria mendekati mereka dan mengatakan bahwa orang lain telah tertular.

"Kami hanya datang untuk yang mati," kata salah seorang anggota tim.


Tim pengubur jenazah di Sierra Leone mendapat ancaman dan kadang kekerasan.

Untuk perempuan

Butuh sekitar 10 menit buat Kagbo dan semua kolega pria untuk mengenakan pakaian pelindung, sarung tangan, dan kaca mata.

"(Baju) itu panas. Saya berkeringat. Saya minum banyak sekali air. Tetapi saya terbiasa, saya sudah takut untuk masuk ke dalam. Kami memiliki pelindung yang bagus," katanya.

Kagbo adalah orang pertama yang masuk ke rumah.

"Ketika perempuan meninggal, saya menutupi tubuh mereka dengan hormat sehingga laki-laki tidak melihat mereka telanjang. Inilah mengapa saya bergabung, untuk para perempuan."

"Demi Tuhan, ini tidak mudah. Saya melihat tanda (ebola) di sana, darah mengucur ke luar. Saya sangat ketakutan karena dia masih sangat muda. Perempuan muda dan laki-laki tua. Oh Tuhan..."

Dia meneguk air, berdiri, dan menatap sepatu botnya, menggeleng perlahan selama beberapa menit. "Pada malam hari ketika saya berbaring saya melihat wajah mereka. Saya mengalami mimpi buruk," katanya kemudian.

Tidak ada upacara

Semua jenazah kemudian disiram disinfektan dan di bawa ke pemakaman khusus di Waterloo. Sebuah tas berisi sarung tangan dan alat pelindung kotor lainnya ditempatkan di atas jenazah.

Beberapa ranting dan daun menutupi atasnya. Lalu kemudian, mereka menguburnya.

Kagbo selesai pukul 17.00 setiap hari, tetapi dia lebih senang menunggu beberapa jam untuk akhirnya naik bus pulang.

Lebih tenang, dan lebih mudah, dia menjelaskan, untuk kembali pulang ke desanya dalam keadaan gelap.

Source : kompas

Tuesday, October 28, 2014

Dua Pria Terlibat "Carok" di Jalan Raya, Warga Tak Berani Melerai


Ilustrasi

Bangkalan (News Today) - Pembacokan di tengah keramaian warga di Jalan RA Kartini, Kota Bangkalan, Jawa Timur, Senin (27/10/2014), membuat warga histeris. Korban pembacokan diketahui bernama Fandi, warga Desa Arosbaya, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, sedangkan pelaku pembacokan diketahui berinisial UD, warga Kelurahan Bancaran, Kecamatan Kota Bangkalan. 

Uus, salah satu warga yang mengetahui kejadian, mengatakan, kedua pria itu kejar-kejaran dari arah barat alun-alun Kota Bangkalan. UD mengendarai motor lengkap dengan helmnya, sedangkan Fandi berjalan kaki. 

Sampai di depan sebuah toko swalayan, Fandi terjatuh dan UD langsung mengayunkan celuritnya. Menurut Uus, korban berlumuran darah. Setelah mengayunkan celuritnya sekali lagi, UD lalu pergi.

"UD kemudian lari menggunakan motornya ke arah barat," imbuh Uus. 

Warga pun tidak ada yang berani untuk melerai aksi tersebut. Menurut dia, setelah aksi itu usai, seorang anggota TNI datang dari arah timur. Fandi langsung dinaikkan ke dalam bak mobil pikapdengan kondisi berlumuran darah. Fandi dibawa ke Rumah Sakit Bangkalan dalam keadaan sekarat.

Source : kompas

Share

Twitter Facebook